Oleh: Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan
“Tradisi itu sudah berjalan turun temurun. Tiap musim panen tiba, semua orang melakukan mappadendang. Tapi, sejak tak ada lagi pare riolo dan katto bokko, ritual panenan itu jarang dilakukan.”
Begitu ujar Mohamad Ali, seniman mappadendang menanggapi
makin jarangnya ritual panenan warga kampung Kallabirang yang sebagian
besar hidup dari bercocok tanam. Bagi Ali dan para petani lainnya di
kampung yang terletak di Battimurung, Maros ini mustahil menggelar mappadendang tanpa pare riolo. Apa kaitan pare riolo dengan ritual panen itu?
Ya. Pare riolo
adalah sebutan padi varietas lama yang tumbuh dengan batang lebih
tinggi. Lebih panjang ketimbang varietas baru yang pernah diperkenalkan
pemerintah tahun 1970-an lewat program intensifikasi pertanian, macam
PB-5 dan PB-8 yang berbatang pendek. Saat musim panen tiba para warga
biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani, yang
menyerupai sebuah pisau pemotong berukuran kecil. Biasanya setelah
terkumpul lantas padi hasil panenan itu dirontokkan dengan cara menumbuk
dalam sebuah lesung. Suara benturan antara kayu penumbuk, yang disebut alu,
dan lesung ini biasanya terdengar nyaring. Membentuk irama ketukan yang
khas rancak bertalu-talu. Gerakan dan bunyi tumbukan berirama inilah
yang menjadi asal-usul seni mappadendang. Tradisi ini turun
temurun. Sampai akhirnya lambat laun mulai ditinggalkan setelah
pemerintah menggulirkan program intensifikasi pertanian untuk
mendongkrak produktifitas ekonomi nasional.
Ritual semacam mappadendang sebenarnya
bukan hanya dikenal di daerah Kalabbirang. Di sejumlah tempat yang
penduduknya bergantung dari hasil usaha bertani umumnya mengenal ritual
bercocok tanam. Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba
waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah
tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar
tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai
dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Makassar dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. “Padi bukan
hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan
berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk
dimakan,” kata Ali yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Tapi
itu dulu. Ketika tanah dan padi masih menjadi sumber kehidupan yang
mesti dihormati dan diagungkan. Sebelum akhirnya bertani menjadi sarana
bisnis dan proyek peningkatan surplus produksi ekonomi nasional.
Sekadar
mengingat kembali lebih dari 30 tahunan yang silam, pemerintah
melancarkan program intensifikasi pertanian di desa-desa, yang dikenal
dengan revolusi hijau dalam pembangunan pertanian. Program itu, di awal
tahun 1970-an, populer dengan nama Bimas Padi Sawah. Nyaris tak ada satu
jengkal pun lahan pertanian yang terhindar dari proyek berorientasi
swasembada dan bisnis pertanian ini. Segala cara dilakukan para penyuluh
dan pegawai Bimas, melalui ancaman maupun paksaan, agar para petani
menjalankan program bimas. Kelompok-kelompok petani dibentuk.
Modernisasi sistem pertanian dilancarkan. Hingga pengenalan varietas
baru yang disebut-sebut sebagai ‘bibit unggul’ itu wajib ditanam.
Sejak saat itu pare riolo
yang biasa disemai para petani ini mulai jarang ditanam. Dan digantikan
dengan varietas ‘unggul’ padi sawah. Seperti padi Shinta, Dara, Remaja,
yang merupakan produk persilangan yang dikeluarkan Lembaga Pusat
Pertanian (LP-3) Bogor. Atau varietas unggul baru macam IR-5 dan IR-8
yang dikenal dengan PB-5 dan PB-8 yang hasil rekayasa Rice Researce
Institute (IRRI). Teknik baru berupa mesin-mesin traktor juga
menggantikan sistem pengolahan tanah yang mengandalkan tenaga sapi atau
kerbau.
Seiring dengan modernisasi sistem pertanian dan orientasi pada aktifitas peningkatan “income” dan
produksi nasional. Akhirnya ritual-ritual bercocok tanam yang rutin
digelar, lambat laun mulai hilang. Lantaran sistem pertanian pendukung
ritual itu semakin ditinggalkan. Tak ada lagi memanen dengan ani-ani.
Tak ada lagi katto bokko. Tidak pula kelong pare dan mappadendang. Bersamaan dengan itu tiada lagi penghargaan terhadap sumber kehidupan. Praktek menanam tidak berurusan dengan anugerah Sangiyang Sri
seperti yang diyakini selama ini. Tapi soal bagaimana produk pertanian
dapat mengejar target produksi nasional yang diharapkan para penyuluh
pertanian.
Kisah modernisasi pertanian semacam ini juga dituturkan perempuan seniman Mappadendang asal Pakalu.
“Mapadendang itu tradisi menumbuk padi. Dulu merontokkan padi itu dengan menumbuk. Sekarang sudah pakai mesin giling. Makanya mapadendang pun semakin jarang dilakukan,“ kata Halima.
Padahal, masih kata Halima, dalam ritual itulah rasa kebersamaan para petani muncul. Bahkan mappadendang menjadi
tempat pertemuan muda-mudi yang ingin mencari pasangan hidup. Dalam
ritual itu setiap pasangan mulai saling mengenal calon pasangannya,
memperhatikan sikap dan tingkah lakunya. “Berbeda dengan sekarang,
pertimbangannya melulu soal ekonomi,” ujarnya sambil menggelengkan
kepala.
Pengaruh
modernisasi pertanian bagi kehidupan kultural masyarakat ini juga
dituturkan Ali. Jauh-jauh hari pria yang lihai ber-mappadendang ini
begitu risau sejak masuknya program pembangunan Dinas Pertanian masa
Orde Baru ini. Dalam pandangan Ali, sebagai penjelmaan dari Sangiyang Sri yang
cantik butiran-butiran padi itu juga berhak istirahat dan menerima
pelayanan dari manusia, sebelum ia sendiri melayani kehidupan kita.
“Kini penghargaan terhadap padi sebagai sumber kehidupan sudah pudar,” kata Ali sambil mencontohkan appatinro bine,
sebuah ritual khusus yang diperuntukkan buat bibit padi sebelum ditabur
di persemaian, yang makin jarang dilakukan warga desa. “Orang-orang
sekarang hanya berpikir bagaimana bibit itu bisa cepat tumbuh dan cepat
panen,” lanjutnya.
Hal
senada juga diutarakan Mustari. Menurut sesepuh komunitas Pakalu ini,
munculnya program padi bibit unggul, sistem pertanian yang efektif,
telah mengubah kepercayaan hidup petani. “Sekarang orang bertani sekadar
menggarap saja,” ujarnya yang mengaku tidak kuasa menolak program
pemerintah waktu itu.
Meski
demikian, tidak berarti program pembangunan pertanian masa pemerintahan
Suharto yang berhasil mengubah kultur masyarakat pedesaan ini tanpa
menuai reaksi dan protes. Di Sidrap, misalnya. Puluhan petani enggan
beralih bibit padi baru. Di Kindang yang masuk wilayah Bulukumba,
seorang petani bernama Karaeng Haji menantang seorang penyuluh pertanian
yang mendatanginya. Cerita yang dituturkan Massewali ini justeru
membuktikan hasil panen Karaeng Haji jauh lebih besar ketimbang hasil
panen yang dijanjikan para penyuluh pertanian dari Bimas. Di banyak
tempat di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah-daerah pertanian,
kasus-kasus serupa tak sedikit jumlahnya.
Alasannya
pun bermacam-macam. Dikatakan, misalnya varietas bibit baru unggulan
itu kenyataannya cuma unggul sekali panen atau paling banter dua kali
panen. Adapun untuk masa tanam berikutnya mereka harus mengganti bibit
dengan cara membeli bibit baru melalui unit koperasi yang masih
dijalankan secara ‘top-dawn’ pula. Tentu saja ini menyulitkan para
petani yang harus bergonta-ganti bibit baru setiap musim tanam.
Respon
yang lain juga diperlihatkan oleh komunitas Pakalu. Seperti dituturkan
Mustari dan Halima, mereka menerima varietas bibit baru untuk sebagian
persawahan mereka. Di pihak lain mereka juga tidak meninggalkan varietas
padi lama yang lebih terbukti hasilnya. Dengan cara itu selain
memperoleh hasil produksi yang melimpah, mereka pun masih bisa menjalani
mappadendang. Ritual yang menjadi bagian dari penghayatan hidup mereka sehari-hari. [Liputan oleh Ijhal]
Tulisan ini dimuat di Koran Fajar, Sulsel. Atas kerjasama Desantara dan LAPAR Makassar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar